Kiamat Kecil Kiamat Besar

Category: What Must We Do Now? Published: Friday, 14 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallamm engkondisikan ummatnya untuk menghayati betapa Hari Kiamat telah dekat. Sehingga dalam suatu khutbah beliau digambarkan ibarat seorang komandan perang yang memperingatkan pasukannya agar selalu dalam keadaan full alert alias waspada siaga satu. Pengkondisian ini membuahkan hasil nyata. Di antaranya pernah diriwayatkan ada seorang sahabat keluar rumahnya pada suatu hari lalu melihat ke arah ufuk dan mendapati di kejauhan terlihat ada asap. Beliau segera bergegas mengetuk rumah-rumah para sahabat lainnya seraya berteriak lantang:

 

الدخان الدخان

“Asap… Asap…!"

Read more: Kiamat Kecil Kiamat Besar

al-Walaa` wal-Baraa` as Revealed in Surat aal-'Imraan (1/2)

Category: What Must We Do Now? Published: Tuesday, 18 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

The legal meaning of Al-Wala' (love, support, help, follow, etc.) is to totally agree with the sayings, deeds and beliefs which please Allah and the persons whom He likes.

In an age where truth is presented as falsehood, righteousness is translated to rebelliance and the preserving of ones land and dignity is called terrorism, there will naturally arise many confusions about the pillars of Iman and the facts of Islam.

Those in whose hearts there is a deviation find it expedient to twist the meaning of many sacred texts because it does not conform with their desires and motives. Not even the principles of Al-Aqeedah can escape their ploys. Al-Wala'u wa Al-Bara' is the creed that guides all the actions and sayings of a Muslim and it is by its practice and application that the ranks of the believers vary. It is imperative that this creed be unambiguous to the Muslim's mentality in order that it manifests and materialises correctly in his actions.

Read more: al-Walaa` wal-Baraa` as Revealed in Surat aal-'Imraan (1/2)

Kewajiban Mengingkari Thaghut Penguasa Zalim

Category: What Must We Do Now? Published: Saturday, 15 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Di dalam jilid 1 kitab Fi Dhzilalil Qur’an, Sayyid Qutb rahimahullah menjelaskan makna kata thaghut. Penjelasannya ditemukan dalam pembahasan surah Al-Baqarah ayat 256. Uraian beliau mengenai thaghut adalah sebagai berikut:

“Thaghut” adalah variasi bentuk kata dari “thughyaan”, yang berarti segala sesuatu yang melampaui kesadaran, melanggar kebenaran dan melampaui batas yang telah ditetapkan Allah bagi hamba-hambaNya, tidak berpedoman kepada aqidah Allah, tidak berpedoman kepada syariat yang ditetapkan Allah. Dan yang termasuk dalam kategori thaghut adalah juga setiap manhaj ‘tatanan, sistem’ yang tidak berpijak pada peraturan Allah. Begitu juga setiap pandangan, perundang-undangan, peraturan, kesopanan, atau tradisi yang tidak berpijak pada peraturan dan syariat Allah.

 

Di dalam karya fenomenalnya yang berjudul “Kitabut Tauhid” Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa pentolan thaghut ada lima. Dan salah satunya ialah penguasa yang zalim. Siapakah penguasa yang zalim itu? Dalam bahasa Arab kata zalim berlawanan dengan kata adil. Di dalam bahasa Arab kata adil bermakna:

Read more: Kewajiban Mengingkari Thaghut Penguasa Zalim

Lisan Terjaga Kebatilan Sirna

Category: What Must We Do Now? Published: Tuesday, 18 September 2012 Written by Admin

Oleh Yusuf Assidiq

Lidahmu adalah harimaumu, begitu kata pepatah. Ini mengandung makna betapa besar dampak dari setiap ucapan yang terlontar. Tak sedikit orang yang terjerumus ke jurang masalah karena mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dalam kaitan ini, agama Islam telah memberikan rambu-rambu. 

Pada dasarnya, ucapan maupun perkataan merupakan cerminan jiwa. Maka itu, Nabi Muhammad SAW berpesan pilihlah kata-kata yang baik. Dalam hal ini, beliau merupakan teladan terbaik. Setiap saat, Rasulullah senantiasa menggunakan kata yang baik dan halus untuk umatnya. 

Sebaliknya, beliau menjauhkan kata-kata yang jelek, kasar, dan keji. Bahkan, Rasulullah sangat membenci jika ada kalimat yang digunakan tidak pada tempatnya yang sesuai. Misalnya, ada kalimat yang baik dan bermakna mulia namun diucapkan kepada orang atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak menyandang kalimat itu.

Read more: Lisan Terjaga Kebatilan Sirna

Bersih Hati DenganAl-Qur'an

Category: What Must We Do Now? Published: Friday, 14 September 2012 Written by Imam S

-Bersih Hati Dengan Al-Qur'an-

Oleh: Imam S.

Pada zaman tabi'in banyak hal-hal luar biasa terjadi, dan banyak diantaranya mengandung hikmah yg luar biasa pula. Seperti sebuah kisah tentang seorang kakek dan cucunya yg hidup di tengah hutan. Setiap hari sang kakek dan cucunya hidup dari bertani dan berburu di hutan tersebut. Dan sepulangnya mereka ke pondok tempat mereka tinggal, sang kakek dan cucunya akan segera menunaikan sholat dan membaca Al-Qur'an bersama-sama. Karena penasaran dengan apa yg mereka baca setiap hari, sang cucu seringkali bertanya tentang arti sesuatu dari tiap sesi mereka membaca. Dan sang kakek selalu dengan sabar menjawab. Walaupun kadang sang kakek pun hanya bisa menjawab, "kakek belum faham tentang hal itu nak, nanti kakek coba cari tahu terlebih dahulu ya.." Sang cucu pun merasa kecewa setiap sang kakek menjawab seperti itu. Namun mereka melakukan rutinitas membaca Al-Qur'an ini setiap hari tanpa tertinggal.

Read more: Bersih Hati DenganAl-Qur'an