Bolehkah Bersikap Santai Menghadapi Hari Kiamat?

Category: What Must We Do Now? Published: Friday, 02 April 2010 Written by Ihsan Tandjung

Ummat Islam sangat disayang oleh Allah subhaanahu wa ta’aala sehingga mereka tidak diizinkan Allah subhaanahu wa ta’aala mengalami peristiwa dahsyat hari Kiamat. Beberapa saat menjelang Kiamat akan berlangsung Allah subhaanahu wa ta’aala bakal mengutus angin sejuk untuk mencabut nyawa setiap orang yang memiliki keimanan walau seberat biji atom agar tidak perlu mengalami dahsyatnya peristiwa Kiamat.

Rasulullah bersabda: “Kemudian Allah melepaskan angin dingin yang berhembus dari Syam. Maka tidak seorangpun dari manusia yang beriman kecuali dicabut nyawanya.” (HR Muslim 14/175)

”Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala akan mengutus suatu angin yang lebih lembut dari sutera dari arah Yaman. Maka tidak seorangpun (karena angin tersebut) yang akan disisakan dari orang-orang yang masih ada iman walau seberat biji dzarrah (atom) kecuali akan dicabut ruhnya.”

(HR Muslim 1098)

Read more: Bolehkah Bersikap Santai Menghadapi Hari Kiamat?

Taqwa Membuahkan Furqan

Category: What Must We Do Now? Published: Sunday, 16 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Misi penciptaan manusia oleh Allah سبحانه و تعالى ke muka bumi ialah untuk beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى semata. Perkara ini harus difahami dan dihayati oleh setiap hamba Allah yang mengaku beriman. Alangkah naifnya bila ada seorang manusia yang berhasil meraih aneka keberhasilan duniawi namun ia tidak memahami bahwa misi hidupnya adalah pengabdian kepada Rabb Pencipta jagat raya yang sejatinya telah mengizinkan dirinya meraih berbagai keberhasilan itu

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku." (QS. Adz-Dzaariyat [51] : 56)

Selanjutnya, Allah سبحانه و تعالى menjelaskan bahwa segenap bentuk pengabdian atau ibadah yang dilakukan manusia di dunia hendaklah ditujukan dalam rangka menggapai taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى .

Read more: Taqwa Membuahkan Furqan

Jenazah Orang Beriman Ingin Kiamat Disegerakan

Category: What Must We Do Now? Published: Friday, 14 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa bila seorang beriman menemui ajalnya, maka ia akan sangat bergembira. Mengapa? Sebab saat kematian menjemputnya ia disambut dengan informasi bahwa dirinya memperoleh ke-ridha-an dan kemuliaan dari Allah ta’aala. Lalu keadaan itu menyebabkan dirinya semakin rindu dan ingin segera berjumpa dengan Allah ta’aala. Lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa bila seseorang rindu dan ingin berjumpa dengan Allah ta’aala, maka Allah ta’aala -pun akan rindu dan ingin berjumpa dengan hamba-Nya tersebut di hari Berbangkit. Begitulah kemuliaan yang dianugerahkan bagi seorang yang beriman.

Namun sebaliknya, seorang kafir akan berada dalam kegoncangan luar biasa saat dirinya menemui ajalnya. Sebab saat itu ia disambut dengan kabar bahwa azab dan siksa Allah ta’aala menantinya. Hal ini akan membuat dirinya semakin enggan dan tidak mau berjumpa dengan Allah ta’aala. Dan Nabi shollallahu ’alaih wa sallammenjanjikan bahwa bagi orang yang enggan berjumpa dengan Allah ta’aala berarti Allah ta’aala –pun akan enggan dan tidak mau berjumpa dengan hambaNya tersebut di hari Berbangkit.

Read more: Jenazah Orang Beriman Ingin Kiamat Disegerakan

Cukuplah Bagi Kami Dienullah Al-Islam Dan Identitas Sebagai Muslim

Category: What Must We Do Now? Published: Saturday, 15 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Suatu ketika selagi berda’wah di Australia, penulis ditanya oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program paska-sarjana: “Ustadz, mana yang lebih baik antara seorang “muslim tapi” atau orang “kafir yang baik”?” Pertanyaan ini sungguh mencerminkan kebingungan penanya yang barangkali juga mewakili kebingungan banyak kaum muslimin dewasa ini. Yang dimaksud dengan seorang “muslim tapi” ialah seorang muslim tapi banyak berbuat dosa. Muslim, tapi korupsi. Muslim, tapi minum khamr. Muslim, tapi berzina. Muslimah, tapi tidak berjilbab. Sedangkan yang dimaksud dengan seorang “kafir yang baik” ialah seorang non-muslim tapi disiplin, rajin bekerja, tertib, teratur, jujur dan lain sebagainya.

Maka penulis menjawab dengan mengatakan bahwa keduanya sama-sama buruk. Si “muslim tapi” buruk karena dia setiap hari berdusta kepada Allah سبحانه و تعالى . Dia mengaku beriman tetapi tidak sanggup menghadapi berbagai ujian di dunia. Ia tidak bersungguh-sungguh dalam menjaga identitasnya sebagai bahagian dari kaum beriman. Padahal Allah سبحانه و تعالى telah memperingatkan setiap orang yang mengaku beriman bahwa dirinya akan diuji agartersingkap siapa yang jujur dan benar dalam pengakuan berimannya dan siapa yang berdusta alias berbasa-basi dalam pengakuannya.

Read more: Cukuplah Bagi Kami Dienullah Al-Islam Dan Identitas Sebagai Muslim

Mu’min Rindu Kampung Halaman Sejati

Category: What Must We Do Now? Published: Friday, 14 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Tahukah saudara bahwa ketika seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian pemeriksaan atas dirinya di yaumul hisab (hari perhitungan amal), maka barulah ia diizinkan Allah memasuki Al-Jannah (surga), negeri keabadian penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana terbukti ia masih mempunyai permasalahan dengan sesama manusia, walaupun dengan Allah Ta’aala ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang bersifat hablun minallah telah diampuni Allah Ta’aala. Namun karena ia masih memiliki masalah hablun minannaas dengan sesama manusia, maka ia ditahan di suatu tempat dekat sekali dari baabul-jannah (pintu surga) guna menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan sesama manusia.

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkannya sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ النَّارِ

فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ

فَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ

كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا

هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى لِمَنْزِلِهِ

فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang-orang yang beriman pada hari Kiamat selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia, sehingga setelah mereka dibersihkan dan telah suci, maka barulah mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia." (AHMAD - 10673)

Read more: Mu’min Rindu Kampung Halaman Sejati