Pentingnya Beriman Kepada Hari Akhir

Category: What Must We Do Now? Published: Tuesday, 30 March 2010 Written by Ihsan Tandjung

 

Pada suatu hari setelah memimpin sholat subuh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam langsung naik ke atas mimbar dan menyampaikan ceramah panjang hingga datangnya waktu zuhur. Sesudah beliau selesai memimpin sholat zuhur, beliau lalu naik kembali ke atas mimbar untuk menyampaikan ceramah hingga datangnya waktuasar. Lalu sesudah memimpin sholat asar beliau langsung kembali ke atas mimbar menyampaikan ceramah hinggamagrib. Sesudah mengimami sholat magrib beliau tidak naik lagi ke atas mimbar.

 

Para sahabat yang hadir menceritakan bahwa pada hari di mana Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallammendadak menyampaikan semacam daurah seharian penuh itu beliau panjang lebar menjelaskan mengenai apa-apa yang bakal berlaku atau terjadi hingga datangnya hari Akhir atau hari Kiamat. Begitu pentingnya urusan hari Akhir ini sehingga beliau memerlukan seharian penuh untuk menjelaskan tanda-tanda akhir zaman menjelang datangya hari Kiamat kepada para sahabatnya. Lalu mereka yang hadir berkata: ”Sesudah wafatnya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallamsetiap aku bertemu dengan suatu peristiwa yang merupakan tanda akhir zaman maka akupun teringat ceramah panjang nabi hari itu. Persis seperti orang yang bertemu dengan orang yang sudah lama berpisah. Sehingga saat bertemu, segera teringat kembali wajahnya.”

Read more: Pentingnya Beriman Kepada Hari Akhir

Persiapan Menyambut Al-Mahdi [Bag. 1 dari 2]

Category: What Must We Do Now? Published: Thursday, 13 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Saudaraku, bila Al-Mahdi telah datang diutus Allah ke muka bumi, maka kita semua umat Islam wajib bergabung dengan barisannya. Begitulah arahan dan perintah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Al-Mahdi merupakan Panglima ummat Islamdi Akhir Zaman.... Dan bila ini telah menjadi jelas kitapun terikat dengan pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai berikut:

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Al-Mahdi),  maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah  Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

Read more: Persiapan Menyambut Al-Mahdi [Bag. 1 dari 2]

Rabbaniyyah Versus Materialisme

Category: What Must We Do Now? Published: Saturday, 15 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Di dalam bukunya yang berjudul Fiqh Da’wah jilid dua, Syaikh Musthafa Masyhur, menulis mengenai dua pemahaman mendasar yang senantiasa bertarung dalam kehidupan manusia. Kedua pemahaman tersebut ialah Rabbaniyyah versus Materialisme. Rabbaniyyah merupakan sebuah ajaran yang senantiasa dianut dan disebarluaskan oleh kaum beriman. Sedangkan Materialisme adalah ajaran yang dianut oleh kaum kafir dan munafik lalu mereka senantiasa mempromosikannya.

Inti daripada ajaran Rabbaniyyah ialah menjalani kehidupan di dunia yang fana ini dengan menjadikan Allah سبحانه و تعالى Rabbul ‘aalamiin sebagai pusat perhatian, puncak kebahagiaan bahkan pusat pengabdian. Sedemikian rupa sehingga panganut Rabbaniyyah hanya mau menjalankan kehidupan di dunia berdasarkan bimbingan petunjuk Allah سبحانه و تعالى beserta utusan-Nya yakni Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Bahkan tolok-ukur keberhasilan kaum penganut Rabbaniyyah ialah seberapa jauh manusia dan masyarakat berjalan konsisten mengikuti petunjuk Rabb mereka, Sang Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta.

Read more: Rabbaniyyah Versus Materialisme

Da’wah Penghambaan Kepada Allah Semata Dan Menjauhi Semua Thaghut

Category: What Must We Do Now? Published: Sunday, 16 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Dalam salah satu tulisannya, Sayyid Qutb rahimahullah menulis sebagai berikut:

 
“Da'wah Islam yang dilakukan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلمhanyalah merupakan mata rantai terakhir dari serentetan da'wah, yang panjang, yang menyeru kepada Islam, yang dilakukan oleh serombongan para Rasul yang mulia ‘alaihimus-salaam. Sepanjang sejarah manusia, tujuan da'wah itu hanya satu saja. Yaitu: mengenalkan manusia kepada Ilah mereka yang satu, Ilah mereka yang sesungguhnya, menegaskan bahwa mereka adalah hamba Ilah mereka yang satu, dan menghilangkan ke-ilah-an makhluk.
 
Selain dari beberapa gelintir manusia pada saat-saat tertentu dalam sejarah, manusia tidak pernah mengingkari prinsip ketuhanan, atau menolak adanya Ilah sama sekali. Hanya mereka tersalah dalam mengenal hakekat Ilah mereka yang hak itu. Atau mereka perserikatkan Allahسبحانه و تعالىdengan suatu ilah yang lain, baik dalam bentuk kepercayaan atau peribadatanالاعتقاد و العبادة), maupun dalam bentukkepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ). Kedua bentuk ini adalah sama saja syiriknya, karena keduanya mengeluarkan manusia dari agama Allahسبحانه و تعالى, sebagaimana yang telah mereka kenal dari tangan setiap Rasul. Kemudian manusia itu mengingkari Rasul kalau masa telah berjalan agak lama. Manusia kembali kepada kejahiliyahan yang tadinya Rasul itu telah mengeluarkan mereka dari padanya. Manusia kembali mempersekutukan Allah سبحانه و تعالىsekali lagi. Hal ini terjadi baik dalam kepercayaan dan peribadatan, baik dalam hal kepengikutan dan kepenguasaan, mau­pun dalam kedua hal itu sekaligus.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 66)
 
 
Jelas sekali sebagaimana ditulis oleh Sayyid Qutb di atas bahwa Sepanjang sejarah manusia, tujuan da'wah itu hanya satu saja. Yaitu: mengenalkan manusia kepada Ilah mereka yang satu, Ilah mereka yang sesungguhnya, menegaskan bahwa mereka adalah hamba Ilah mereka yang satu, dan menghilangkan ke-ilah-an makhluk.

Read more: Da’wah Penghambaan Kepada Allah Semata Dan Menjauhi Semua Thaghut

Mu’min Rindu Kampung Halaman Sejati

Category: What Must We Do Now? Published: Friday, 14 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Tahukah saudara bahwa ketika seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian pemeriksaan atas dirinya di yaumul hisab (hari perhitungan amal), maka barulah ia diizinkan Allah memasuki Al-Jannah (surga), negeri keabadian penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana terbukti ia masih mempunyai permasalahan dengan sesama manusia, walaupun dengan Allah Ta’aala ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang bersifat hablun minallah telah diampuni Allah Ta’aala. Namun karena ia masih memiliki masalah hablun minannaas dengan sesama manusia, maka ia ditahan di suatu tempat dekat sekali dari baabul-jannah (pintu surga) guna menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan sesama manusia.

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkannya sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ النَّارِ

فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ

فَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ

كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا

هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى لِمَنْزِلِهِ

فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang-orang yang beriman pada hari Kiamat selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia, sehingga setelah mereka dibersihkan dan telah suci, maka barulah mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia." (AHMAD - 10673)

Read more: Mu’min Rindu Kampung Halaman Sejati