Persiapan Menyambut Al-Mahdi [Bag. 2 dari 2]

Category: What Must We Do Now? Published: Thursday, 13 September 2012 Written by Ihsan Tandjung

Saudaraku, bila Al-Mahdi telah datang diutus Allah ke muka bumi, maka kita semua umat Islam wajib bergabung dengan barisannya. Begitulah arahan dan perintah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Al-Mahdi merupakan Panglima ummat Islamdi Akhir Zaman.... Dan bila ini telah menjadi jelas kitapun terikat dengan pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai berikut:

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Al-Mahdi),  maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah  Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

Setelah kita membahas bagian pertama hadits di atas yaitu : “Ketika kalian melihatnya (kehadiran Al-Mahdi)...”, maka selanjutnya marilah kita perhatikan bagian berikutnya dimana Nabi bersabda: ”...maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju...” Bagian ini mengandung makna bahwa Al-Mahdi merupakan pemimpin umat Islam yang mereka mesti berikan bai’at kepemimpinan kepadanya. Artinya, bila kehadirannya sudah jelas, maka tidak perlu lagi ada perdebatan soal layak tidaknya ia menjadi pemimpin ummat, sebab legalitasnya telah direkomendasi langsung oleh Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Dan bila rekomendasi itu telah datang dari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berarti ia telah diridhai Allah tentunya.

“…dan tiadalah yang diucapkannya (oleh Rasulullah) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS An-Najm ayat 3-4)

Read more: Persiapan Menyambut Al-Mahdi [Bag. 2 dari 2]

Pemanah Pertama Dalam Islam (Profil Sahabat Nabi SAW.)

Category: What Must We Do Now? Published: Tuesday, 18 September 2012 Written by Imam S.

 

بِسمِ اَللهِ اَلرَّ حْمٰنِ اَلرَّ حِيمِ

 

Sa’ad bin abi waqqash

~Pemanah Pertama Dalam Islam~

 

Sa’ad adalah seorang pemuda dari kalangan keluarga terhormat di Makkah. Ayah dan ibunya berasal dari keluarga Manaf, yang merupakan keluarga dari garis keturunan Ibunda Rasulullah saw, Aminah binti Wahab. Dengan demikian ia termasuk salah seorang paman Baginda Rasulullah. Ia pun termasuk dalam 10 Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk Surga.

Sebelum keislamannya, Sa’ad merupakan pemuda yang luar biasa mandiri. Disaat usianya sudah mencapai 17 tahun, ia sudah memiliki pekerjaan yang layak. Ia bekerja sebagai pembuat peralatan memanah yang ahli dan diakui dikalangan penduduk Makkah. Ia termasuk pemuda yang saat itu tidak peduli dengan Agama dan kepercayaan penduduk Makkah yang Musyrik. Ia sangat mencintai dan mentaati Ibunya.

 

Seolah menanti perubahan pada diri dan lingkungannya, Sa’ad yang saat itu sudah mencapai kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak, segera menerima Hidayah yang disampaikan Rasulullah saw. Maka tercatatlah ia dalam sejarah sebagai orang ketiga yang masuk Islam. Dengan kharisma dan wibawanya, ia berhasil membujuk beberapa pemuda yang berstatus sosial tinggi untuk mengikutinya ke dalam Hidayah Allah swt.

Read more: Pemanah Pertama Dalam Islam (Profil Sahabat Nabi SAW.)

Kenapa Kita Harus Keluar dari Sistem Medis Barat? (Bagian 1 dari 2)

Category: What Must We Do Now? Published: Sunday, 16 September 2012 Written by Saif Askarillah

POJOK THIBBUN NABAWI

KENAPA KITA HARUS KELUAR DARI SISTEM MEDIS BARAT?

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,” [QS Asy-Syu’ara (26) : 80]

Pojok Thibbun Nabawi ini merupakan salah satu pojok dari serangkaian pojok di toko kami, pojok ini insyaAllah akan mencoba menawarkan solusi / alternatif dari salah satu permasalahan ummat Islam di akhir zaman ini, yaitu solusi dalam bidang medis dan pengobatan. Sebagaimana judul besar di atas, berikut ini ada setidaknya 4 hal yang insyaAllah cukup menjadi alasan bagi kita untuk keluar dari sistem medis Barat.

1. Bertentangan dalam banyak hal dengan Thibbun Nabawi.

Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam ayat di atas, maka seharusnya itulah yang menjadi landasan utama kita dalam memandang dan menyikapi suatu penyakit, bahwa Allah lah Yang Maha Kuasa menyembuhkan kita dari segala penyakit kita, sebagaimana Dia pula lah Yang memberikan sakit itu sebagai ujian bagi kita. Dalam salah satu hadistnya, Rasulullah SAW bersabda, Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya.’ (HR. Bukhari). Adapun sistem medis barat jelas hanya mengandalkan akal saja, mereka tidak mau mengakui adanya Allah Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit. Hal ini lah mengapa pengobatan barat dikatakan sebagai pengobatan yang wholistik (parsial), yang hanya mengobati secara lahiriah/jasmani/fisik. Sedangkan Thibbun Nabawi adalah sistem medis yang holistik (menyeluruh), yang mengobati baik lahir dan batin, jasmani dan ruhani, fisik dan psikis.

Read more: Kenapa Kita Harus Keluar dari Sistem Medis Barat? (Bagian 1 dari 2)

Tauhid Dalam Mencari Rizki, Belajar Dari Bapaknya Para Nabi

Category: What Must We Do Now? Published: Tuesday, 18 September 2012 Written by Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Tauhid Dalam Mencari Rizki, Belajar Dari Bapaknya Para Nabi...

 

Hari kemarin adalah hari yang luar biasa bagi kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin, hari dimana kami kembali memanen padi yang kami tanam sendiri – setelah empat puluh tahun saya sendiri tidak melakukannya, karena sebelum ini panen padi terakhir yang saya ingat adalah panen padi semasa kecil di tahun 1970-an. Namun bukan panen padi-nya sendiri yang menjadikan ini luar biasa, tetapi pelajaran yang bisa kami peroleh dari padi-padi yang kami tuai tersebut.

 

Dua minggu sebelumnya, petak-petak sawah tetangga kami juga dipanen. Tentu petaninya lebih berpengalaman dari kami sendiri karena seumur-umur memang ini pekerjaan mereka. Ketika sama-sama belum dipanen, hamparan padi merekapun nampak lebih hijau karena memang dipupuk dengan sangat memadai.Namun rupanya Allah berkehendak lain, ketika padi dipanen oleh tetangga kami tersebut – sangat sedikit yang ada isinya. Panenannya gagal tahun ini tanpa bisa dijelaskan – apa yang menyebabkan padinya tidak berisi.

 

Padi kami sendiri alhamdulillah, meskipun dipupuk seadanya dengan pupuk organik – hasilnya menunjukkan panenan yang baik karena mayoritas padinya berisi. Apakah ini karena kami lebih mengetahui tentang ilmu perpadian dari tetangga-tetangga kami ? tentu tidak – karena kami baru belajar kembali tentang ilmu perpadian ini. Yang jelas tidak ada kekuatan lain dalam hal ini selain kekuatanNya, siapa yang bisa memberi isi kedalam bulir-bulir padi tersebut bila Dia tidak menghendakiNya ?.

 

Siapa yang memberi bulir padi, bila Dia tidak menghendakinya ?

Siapa yang memberi bulir padi, bila Dia tidak menghendakinya ?

 

 

Disinilah letak pelajaran itu; ketika melihat bulir padi yang berisi dan bulir padi yang tidak berisi, kita begitu mudah memahami bahwa hanya Allah-lah yang bisa membuatnya demikian. Bisa saja padi ditanam di hamparan sawah yang sama, menggunakan bibit padi yang sama, di airi dari sumber air yang sama – tetapi yang satu tidak diberi isi sedangkan yang lain diberi isi – siapa yang kuasa melakukan ini ?, hanya Dia-lah yang kuasa melakukannya.

 

Read more: Tauhid Dalam Mencari Rizki, Belajar Dari Bapaknya Para Nabi

Rezeki Bagi Negeri Di Atas Api…

Category: What Must We Do Now? Published: Tuesday, 18 September 2012 Written by Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Tengah malam tadi malam saya dibangunkan oleh tetangga karena ada kebakaran besar yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari komplek perumahan kami. Alhamdulillah per pagi ini api sudah terkendali, setelah hilir mudik mobil kebakaran menguras air kolam renang komplek kami untuk memadamkannya. Semuanya tidak ada yang kebetulan, Allah menciptakan api tetapi juga menyediakan sarananya untuk memadamkan api tersebut – yaitu air. Maka demikianlah Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, setiap ada masalah – Dia berikan pula solusinya.

 

Dalam dunia risk management ada istilah ring of fire – atau cincin api, yaitu daerah yang paling sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Ada dua lingkaran cincin api yang keduanya melewati Indonesia, yaitu yang pertama cincin api Pacific yang membentang mulai dari Indonesia, Filipina, Jepang terus ke arah utara Russia, kemudian menyebrang ke arah timur ke Alaska, pesisir barat Amerika Serikat, Amerika Tengah sampai ke pesisir barat Amerika Selatan. Yang kedua adalah cincin api Mediterania yang memanjang mulai dari Indonesia terus ke arah barat ke Pegunungan Himalaya, Mediterania dan Atlantik.

 

Selama ini dunia cenderung memandang dari sudut negatifnya dari keberadaan ring of firetersebut, tidak berlebihan memang karena 90 % gempa bumi dunia berasal dari daerah ring of fire, dan 81% yang terbesar di antara gempa bumi-gempa bumi tersebut juga berada di daerah cincin api ini.

Read more: Rezeki Bagi Negeri Di Atas Api…