Khutbah Ied Ihsan Tandjung 1432 H

Category: What Must We Do Now? Published: Sunday, 16 September 2012

 MEMELIHARA IMAN DAN

TAUHID DI AKHIR ZAMAN

 

Muhammad Ihsan Tandjung

Masjid Al-Muhajirin - Pondok Mekarsari Permai - Cimanggis-Depok

01 Syawwal 1432 H / Agustus 2011

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا

لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده

لآإله إلا اللهالله أكبرالله أكبر و لله الحمد

الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله

ولو كره المشركون

أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده

و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

فقال الله تعالى في كتابه الكريم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Terutama marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang bisa diterima manusia. Tidak semua manusia mendapatkannya. Alhamdulillah kita termasuk yang mendapatkannya. Itulah ni’mat iman-tauhid dan dienul-Islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, terarah, terang, benar dan berma’na serta selamat di dunia maupun akhirat.

Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah denganberbagai penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.

Selanjutnya khotibmengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan danpenghormatan melalui ucapan sholawat dan salam-sejahterakita kepada manusia pilihan yang mengajarkan kita hakikat iman dan islam… imamul muttaqinpemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah MuhammadSallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dansemoga kita yang hadir di tempat ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama merekadalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Tak lupa khotib juga mengajak jamaah sekalian untuk mendoakan saudara-saudara kita kaum muslimin, mukminin, muwahhidiin dan mujahidin fii sabilillahdi berbagai belahan bumi yang sedang didera berbagai kesulitan. Baik karena bencana alam berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus dan lain sebagainya. Maupun karena kezaliman fihak para thaghut (penguasa zalim) musuh-musuh Allah yang memerangi, memboikot, memfitnah hingga memenjarakan mereka. Ya Allah, berilah kesabaran kepada mereka dalam menghadapi berbagai ujian hidup ini. Ya Allah, berilah kesabaran kepada anak-isteri para mujahidin dan du’at mukhlishin dimanapun mereka berada. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

 

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Lima belas abad yang lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah memperingatkan kita bakal datangnya suatu masa dimana badai fitnah menyelimuti dunia sehingga mengancam iman kaum muslimin. Badai fitnah itu menjadikan dunia sedemikian gelapnya sehingga kaum Muslimin tidak sekedar melakukan dosa-dosa kecil, bahkan tidak pula dosa-dosa besar. Sebab bagaimanapun banyaknya dan besarnya dosa seseorang, bila iman masih bersemayam di dalam dada, niscaya ia masih mungkin memperoleh ampunan Allah سبحانه و تعالى . Tetapi dalam hal ini Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم jelas-jelas memberi warning bahwa fenomena di era badai fitnah ialah berubahnya seseorang dari yang asalnya mu’min menjadi kafir. Ini bukan merupakan dosa sembarang dosa. Namun ini merupakan puncak dosa, yaitu riddah alias murtad. Wa na’udzubillaahi min dzaalika...!

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِيُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا

وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًاوَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: "Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Atau di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir dipagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia." (HR Muslim - 169) Shahih

 

Coba perhatikan hadits tersebut. Jelas Nabi صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan “Di pagi hari seorang laki-laki berbuat kebaikan, lalu melakukan kejahatan di sore harinya.” Tidak, saudaraku...! Jelas-jelas Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya.”Nabi صلى الله عليه و سلم menggambarkan bahwa di era badai fitnah ancaman terbesar bagi muslim ialah terlibat dalam dosa puncak, bukan sekedar dosa kecil bahkan bukan dosa besar. Dosa puncak ialah menjadi murtadnya seseorang setelah tadinya ia beriman..!

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ

أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-baqarah 217)

Sadarkah kita bahwa salah satu perkara penting yang sering diabaikan ummat Islam dewasa ini ialah betapa terancamnya eksistensi iman dan tauhidkita? Sadarkah kita bahwa aneka serangan al-ghazwu al-fikri (perang pemikiran/ideologi atau the battle of hearts and minds) secara sistematis berlangsung setiap hari merongrong keutuhan iman-tauhid diri, anak dan isteri kita? Kian hari kian terasa betapa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini merupakan potongan zaman yang sarat dengan fitnah. Inilah zaman yang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلمdalam haditsnya yang berbunyi:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا

جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Nabi صلى الله عليه و سلمbesabda: "Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga seandainya mereka menempuh (masuk) ke dalam lobang biawak kalian pasti akan mengikutinya". Kami bertanya; “Ya Rasulullah, apakah yang engkau maksud kaumYahudi dan Nashrani?". Beliau menjawab: "Siapa lagi (kalau bukan mereka).(BUKHARI - 3197) Shahih

 

Kepemimpinan barat atas dunia modern dewasa ini jelas mencerminkan dominasi the Judeo-Christian Civilization (peradaban Yahudi-Nasrani) atas ummat manusia, termasuk ummat Islam di dalamnya. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin yang terjangkiti virus ”taqlid” mengekor kepada tradisi dan jalan hidup mereka. Kita bukan sekedar mempermasalahkan masalah-masalah ringan seperti Birthday Party (pesta ulang tahun) atau Valentine’s Day. Namun yang kita prihatinkan betapa banyaknya muslim yang mengekor kepada mereka dalam berbagai tata kehidupan seperti sistem hukum, politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain sebagainya.Allah سبحانه و تعالىbahkan me-warning kita bahwa inilah karakter dasar kaum Yahudi dan Nasrani.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَىحَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (tradisi/jalan hidup/agama) mereka. (QS Al-Baqarah 120)

 

Sungguh ironis menyaksikan bagaimana satu setengah miliar lebih kaum muslimin sedunia bisa menjadi korban sebuah peradaban yang terputus dari petunjuk Allahسبحانه و تعالى. Bagaimana mungkin suatu ummat yang memiliki Kitabullah Al-Qur’an yang Allah jamin kebenaran dan keasliannya dapat diarahkan oleh ummat-ummat yang Kitab Sucinya –yakni Taurat dan Injil- telah mengalami kontaminasi dan manipulasi penyimpangan di sana-sini?

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Kepemimpinan the Judeo-Christian Civilization (peradaban Yahudi-Nasrani) atas ummat manusia berusaha menularkan nilai-nilai kekufuran yang ada dalam diri mereka kepada siapa saja, termasuk kaum muslimin yang asalnya beriman. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin di berbagai belahan dunia mulai mengekor kepada pandangan hidup kaum kuffar pemimpin global dunia dewasa ini. Padahal Allah سبحانه و تعالى secara tegas melarang kita untuk memberikan loyalitas kepada mereka. Memberikan loyalitas maknanya adalah menjadikan mereka sebagai pemimpin yangdiikuti. Bahkan Allah سبحانه و تعالى mengancam bahwa siapa saja muslim yang memberikan loyalitas kepada kaum yahudi dan nasrani, berarti ia telah menjadi bahagian dari golongan mereka alias keluar dari golongan kaum muslimin. Barangsiapa yang ber-wala’ (memberikan loyalitas) kepada kaum kuffar berarti ia telah murtad dan ikut menjadi kafir, betapapun ia masih rajin mengerjakan sholat, berpuasa, bersedekah, pergi haji dan berbagai amal sholeh lainnya layaknya seorang muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah 51)

 

Di dalam ayat lainnya Allah سبحانه و تعالى memperingatkan akan akibat menjadi murtad bila menjadikan sebagian ahli Kitab (kaum yahudi dan nasrani) pemimpin yang diikuti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS Ali Imran 100)

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Iman dan tauhid merupakan fondasi sekaligus miftahul jannah (kunci pembuka pintu surga) bagi setiap muslim. Namun sekedar melafalkannya tidak serta-merta menyebabkan seseorang terjamin pasti masuk surga dan terbebaskan dari api neraka yang menyala-nyala. Mengapa? Karena Allah سبحانه و تعالىmenyuruh kita agar menerima kalimat tauhid dengan ilmu dan pemahaman sebagai hasil kajian dan perenungan. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid tanpa ilmu tidak mungkin menjalankan konsekuensi iman dan tauhidnya itu. Makna utama kalimat tauhid dijelaskan Allah سبحانه و تعالى di dalam ayat berikut:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ

“Maka barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS Al-Baqarah 256)

 

Ketika seorang sahabat yang didoakan Nabi صلى الله عليه و سلم agar menjadi ahli tafsir, yakni Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ditanya oleh para sahabat lainnya mengenai makna“buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”, maka beliau mengatakan bahwa hal itu adalah kalimat Laa ilaaha ill-Allah alias kalimat tauhid. Berarti makna utama iman dan tauhid seseorang ialah berpadunya di dalam diri “ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah”.

 

Sedangkan di dalam ayat lainnya Allah سبحانه و تعالى menjelaskan apa yang menjadi pesan abadi para Rasul utusan Allah dari zaman ke zaman, dari suatu negeri ke negeri lainnya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS An-Nahl 36)

 

Pesan abadi para Rasul ialah menyerukan ummatnya masing-masing untuk ber-tauhid yang maknanya ialah "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". Dalam ilmu tauhid, seruan untuk hanya beriman dan menyembah Allah سبحانه و تعالىmerefleksikan kewajiban al-wala’ (memberikan loyalitas) kepada Allahسبحانه و تعالى berikut Rasul-Nya صلى الله عليه و سلم . Sedangkan seruan untuk menjauhi dan mengingkari thaghut merefleksikan kewajiban al-bara’ (berlepas diri) dan tidak berasosiasi/mendukung/bekerjasama dengan thaghut.

 

Untuk bagian pertama, yaitu urusan beriman dan menyembah Allah سبحانه و تعالى sudah cukup banyak kajian yang membahasnya. Namun untuk urusan menjauhi dan mengingkari thaghut masih jarang sekali yang membicarakannya. Padahal pemahaman mengenai masalah al-wala’ dan al-bara’ ini merupakan ashlud-dien (pokok ajaran agama). Sah atau tidaknya iman dan tauhid seseorang mensyaratkan hadirnya secara lengkap al-wala’ dan al-bara’. Seorang muwahhid(ahli tauhid) sejati tidak hanya sibuk dalam mengokohkan iman dan penghambaan dirinya kepada Allah سبحانه و تعالى , tetapi ia juga serius menjauhi dan mengingkari thaghut. Ketidak-sahihan iman dan tauhid seseorang akan berakibat fatal. Berbagai amal sholeh dan amal ibadah jika tidak berlandaskan iman dan tauhid yang sah hanya akan menjadi sia-sia. Amalnya akan terhapus dan menjadi fatamorgana.

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa yang kafir terhadap keimanan maka hapuslah amalannya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-Maidah 5)

 

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS An-Nur 39)

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Mengingat langkanya kajian yang membahas kewajiban menjauhi dan mengingkari thaghut, maka tentu pertanyaannya sekarang ialah “apakah thaghut” itu?

 

Pengertian thaghut bersifat umum, yaitu meliputi segala sesuatu yang diibadati selain Allah سبحانه و تعالى dan ia rela dengan peribadatan itu. Seperti yang diibadati atau yang diikuti atau yang ditaati di luar ketaatan kepada Alah سبحانه و تعالىdan Rasul-Nya صلى الله عليه و سلم , maka ia adalah thaghut. Berarti thaghut itu bisa banyak. Dan, alhamdulillah seorang ulama bernama Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah telah menulis “Risalah Fii Makna Thaghut” dimana di dalamnya ia menjelaskan ada lima thaghut utama yang mesti dijauhi dan diingkari oleh setiap muslim.

 

Pertama, iblis atau syetan. Ini merupakan thaghut utama yang Allah سبحانه و تعالىperintahkan setiap muslim untuk memusuhinya. Dan Allah سبحانه و تعالى larang manusia agar jangan sampai menjadi penyembah syetan.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَايَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir 6)

 

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْلا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah Aku (Allah سبحانه و تعالى ) telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syetan, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (QS Yaasin 60).

 

Apakah ada manusia yang menyembah syetan? Ada...! Di dalam kitabnya berjudul “Sistem Dajjal”, Ahmad Thomson menerangkan bahwa di balik fenomena Novus Ordo Seclorum (New World Order alias Tatanan Dunia Baru) yang sedang dirancang oleh the judeo-christian civilization untuk menyambut kehadiran pemimpin mereka -yakni Ad-Dajjal- terdapat the Unseen Force (kekuatan yang tidak tampak)berupa berbagai Secret Societies (Masyarakat Rahasia) bentukan kaum Yahudi. Berbagai secret societies ini menjadi Master Mind (otak utama) di belakang layar berbagai konspirasi jahat membangun dunia modern agar berlandaskan Dajjalic Values (nilai-nilai Dajjal/ nilai-nilai kekafiran) dan meninggalkan nilai-nilai Ilahi-Rabbani serta nilai-nilai Nabawy. Organisasi masyarakat rahasia ini berskala global-mendunia dan ada yang bernama gerakan Freemasonry, Illuminati, Knight Templars atau Kabbalah. Walau yang membidani kaum yahudi, tetapi berbagai organisasi ini merekrut anggotanya dari aneka latar belakang bangsa dan agama. Tapi yang pasti mereka berusaha mengumpulkaninfluential figures (tokoh berpengaruh) seperti para kepala negara, menteri-menteri, petinggi militer dan dinas intelijen, para artis dan selebritis, pebisnis kaya-raya, pimpinan media-massa, saintis, para pemikir bahkan para pendakwah, baik ulama, rahib, rabbi maupun pendeta.

Di dalam buku Gerakan Freemasonry, seorang ulama yang mendapat hidayah Allah سبحانه و تعالى sehingga bertaubat dan akhirnya berhasil keluar dari organisasi tersebut menjelaskan bahwa Freemasonry merupakan sebuah masyarakat rahasia berjenjang hingga 33 peringkat. Di setiap peringkat seorang anggota wajib membacakan ikrar/sumpah/bai’at. Ketika ulama ini hendak disumpah pada peringkat ke 30 barulah ia sadar bahwa organisasi yang digelutinya selama ini ternyata merupakan sebuah hizbusy-syetan (partai atau pasukan syetan). Sebab ia diharuskan melafalkan bai’at yang diawali dengan kalimat “In the name of Lucifer...” (dengan nama Iblis aku bergabung dengan organisasi ini)...! Ulama inipun sadar bahwa ini merupakan sebuah masyarakat rahasia yang menghimpun para ‘abadat-thaghut (para penyembah thaghut syetan) sekaligus para anshor ad-Dajjal (para pembela Ad-Dajjal). Wa na’udzu billaahi min dzaalika.

 

Kedua, penguasa atau pemerintahan yang zalim. Yaitu fihak yang memiliki otoritas atas suatu wilayah namun tidak menegakkan kedaulatan dan hukum Allahسبحانه و تعالى di wilayah tersebut.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ

مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا

أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa 60)

 

Pemerintah yang adil meletakkan hukum Allah سبحانه و تعالى atau hukum Al-Qur’an atau hukum Islam pada tempat tertinggi dimana segala hukum, perundang-undangan dan peraturan lainnya merupakan “breakdown” dari hukum Allah سبحانه و تعالى tersebut. Sedangkan pemerintah yang zalim meletakkan hukum selain hukum Allah سبحانه و تعالى pada posisi yang tertinggi, seperti misalnya hukum produk manusia, maka itu berarti ia telah mengajak masyarakat untuk berhukum kepada thaghut padahal Allah سبحانه و تعالى memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingkari thaghut. Demikian perintah Allah سبحانه و تعالى .

Thaghut berupa penguasa atau pemerintahan zalim ini merupakan jenis thaghut yang paling sering menjadi penentang utama da’wah tauhid yang diserukan oleh para Nabiyullah‘alaihimussalam sepanjang zaman.Kisah pertentangan antara para Nabiyullah ‘alaihimussalam dengan thaghut penguasa zalim banyak mengisi lembaran sejarah umat manusia dan diabadikan di dalam lembaran mushaf Al-Qur’anul Karim. Di antaranya ialah kisah pertentangan antara Nabiyullah Nuh ‘alahissalam dengan para thaghut pemuka kafir kaumnya, Nabi Ibrahim ‘alahissalam versus thaghut Namrud, Nabi Musa ‘alahissalam versus thaghut Fir’aun, ashabul-kahfi (para pemuda gua) versus thaghut Raja Dekyanus, Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلمversus thaghut Abu Jahal-Abu Lahab cs dan kelak nanti Nabi Isa ‘alahissalam bersama Al-Imam Al-Mahdi versus thaghut penguasa zalim paling dahsyat sepanjang zaman,yaitu fitnah thaghut Al-Masih Ad-Dajjal...!

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Thaghut utama yang ketiga ialah orang-orang yang memutuskan perkara tidak berdasarkan apa-apa yang Allah سبحانه و تعالى telah turunkan. Mereka merumuskan dan memutuskan hukum dan perundang-undangan tidak berlandaskan hukum Allah سبحانه و تعالى yang tertuang di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُفَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al-Maidah 44)

Thaghut jenis ketiga ini divonis kafir oleh Allah سبحانه و تعالى karena telah merampas salah satu hak prerogratif Allah سبحانه و تعالى yaitu haqqut-tahliil dan haqqut-tahriim (hak menetapkan mana perkara yang halal/legal dan mana perkara yang haram/illegal). Di era penuh fitnah seperti sekarang hegemoni Sistem Dajjal di bidang hukum sangat terasa. Sedemikian hebatnya hegemoni nilai-nilai kekafiran di bidang hukum sehingga kita menyaksikan banyaknya kaum muslimin yang masuk ke dalam perangkap meyakini bahwa selain hukum Allah سبحانه و تعالى dapat menjamin keadilan dan kebenaran. Padahal tidak ada sumber kebenaran dan keadilan kecuali dengan menjadikan Kitabullah Al-Qur’an sebagai pemutus perkara yang timbul di antara manusia.

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam 115)

 

Bahkan Allah سبحانه و تعالى menegaskan bahwa salah satu misi utama diutusnya para Nabiyullah ‘alaihimussalam ialah untuk memastikan Kitabullah yang diwahyukan kepada mereka berlaku sebagai Kitab Hukum untuk memutuskan berbagai perkara yang diperselisihkan manusia. Jadi, Al-Qur’an tidak sepatutnya hanya deperlakukan sebagai Kitab Suci yang dibaca, di-tilawahi dan di-tadaarus-kan lalu di-khatam-kan demi mensucikan jiwa dan menambah pahala. Tetapi Al-Qur’an sepatutnya juga merupakan sebuah Kitab Hukum yang secara jelas, tegas, adil dan benar membedakan perkara yang halal (baca: legal) dari perkara yang haram (baca: illegal).

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ

مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS Al-Baqarah 213)

 

Keempat, termasuk thaghut utama ialah orang yang mengaku tahu perkara yang ghaib selain Allah سبحانه و تعالى . Inilah kalangan yang biasa disebut di dalam hadits dengan istilah “kahin” atau dukun, ahli nujum, paranormal, klenik, ahli mistik, peramal atau “orang pinter”. Padahal Allah سبحانه و تعالىberfirman sebagai berikut:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

“(Dia adalah Allah سبحانه و تعالى ) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS Al-Jin 26-27)

 

Dewasa ini sudah tidak ada lagi Rasul atau Nabi yang diutus Allah سبحانه و تعالىsehingga tidak ada seorangpun yang berhak meng-claim dirinya mengetahui perkara yang ghaib. Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم dengan keras melarang kaum muslimin mendatangi dan mempercayai apa yang dikatakan oleh thaghut jenis keempat ini. Bahkan beliau mengancam bahwa siapa saja yang melakukan hal demikian berarti ia telah murtad dari agama Islam...!

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُفَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka ia telah kafir dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad صلى الله عليه و سلم ." (IBNUMAJAH - 631) Shahih

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Terakhir, thaghut utama kelima ialah orang yang diibadati dan ia rela dan senang dengan peribadatan tersebut. Jenis thaghut ini seringkali berupa para pemuka agama. Karena mereka merupakan fihak yang seringkali mendapat pernghormatan dari masyarakat, jamaah, murid-murid, anak-buah, kader-kader di sekeliling dirinya. Jika menyikapi penghormatan tersebut mereka tidak sanggup menata hati dan fikirannya untuk tetap bersikap “tawadhu” (rendah hati), niscaya ia akan berkembang menjadi melampaui batas. Akhirnya pemuka agama itu menjadi lupa diri, kemudian mengeluarkan pendapat atau fatwa yang tidak dilandasi oleh ayat Allah سبحانه و تعالى (Al-Qur’an) atau Hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Seenaknya saja ia mengeluarkan pendapat pribadinya tanpa mengacu kepada Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم sebab ia sudah terlalu senang dan bangga akan sikap tsiqoh (kepercayaan) serta tho’ah(ketaatan)dari jamaahnya yang selalu memandangnya sebagai Kyai, Ajengan, Mursyid, Habib, Imam, Amir, Ustadz atau Qiyadah yang tidak pernah salah, selalu benar dalam ucapan maupun perbuatan. Jiwa kritis dari orang-orang di sekelilingnya menjadi mati. Tradisi keilmuan diganti dengan pola indoktrinasi. Keharusan memahami diganti dengan sikap dogmatis dalam mempercayai dan mematuhi sang pemuka agama. Allah سبحانه و تعالىberfirman:

وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

“Dan barang siapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah ilah (tuhan) selain daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS Al-Anbiya 29)

Celakanya jika ada di antara muridnya yang sedikit saja menunjukkan keingintahuan yang di atas rata-rata murid lainnya, lalu bertanya: “Ya Syaikh, atau pak Kyai, atau Pak Habib, kira-kira apa yang tadi dijelaskan bisa kita rujuk ke surah berapa ayat berapa di dalam Al-Qur’an? Atau di dalam hadits Nabi صلى الله عليه و سلمyang mana?” Maka pertanyaan seperti ini seringkali tidak perlu dijawab oleh sang pemuka agama, sebab salah seorang muridnya akan segera menghardiknya dengan mengatakan: “Hai fulan, kurang ajar sekali kamu dengan Syaikh kita, atau pak Kyai, atau pak Habib...! Apakah kamu tidak tsiqoh dengan beliau? Kamu mesti percaya donk dengan apa yang dikatakannya...! Sudahlah, kalaupun dijelaskan kamu juga tidak akan cukup ilmu untuk memahaminya. Taat sajalah...!” Maka di dalam majelis para pemuka agama yang telah menjadi thaghut ini biasanya atmosfir keilmuan sudah redup. Yang ada hanyalah doktrin dan dogma yang mesti dipatuhi.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Demikianlah lima thaghut utama yang bila seorang muslim sanggup menjauhi serta mengingkarinya berarti ia telah memenuhi salah satu rukun penting kalimat tauhid. Kelima jenis thaghut di atas seringkali terkait erat dengan the judeo-christian civilization yang sedang mendominasi kepemimpinan global dunia di era badai fitnah dewasa ini. Bahkan peradaban Sistem Dajjal (baca: Novus Ordo Seclorum/ New World Order) sangat berkepentingan untuk melestarikan peranan para thaghut tersebut demi mempermudah dominasi mereka atas kaum muslimin di segenap penjuru dunia, khususnya di negeri-negeri kaum muslimin.

وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ

Rasulullah صلى الله عليه و سلمlalu beliau bersabda: "Tiada seseorang dapat selamat dari fitnah-fitnah sebelum fitnah Ad-Dajjal melainkan pasti selamat pula darinya (fitnah Ad-Dajjal) sesudahnya." (AHMAD - 22215) Shahih

 

Barangsiapa yang mengaku muslim dan sanggup menyelamatkan dirinya menghadapi aneka fitnah sebelum Ad-Dajjal keluar, maka Nabi صلى الله عليه و سلمmenjamin bahwa muslim tersebut bakal selamat menghadapi puncak fitnah, yaitu Ad-Dajjal ketika ia keluar. Barangsiapa yang mengaku muslim sanggup menyelamatkan diri menghadapi aneka thaghut penguasa zalim yang ada sebelum keluarnya Ad-Dajjal, maka Nabi صلى الله عليه و سلم menjamin bahwa muslim tersebut bakal selamat menghadapi puncak thaghut penguasa zalim Ad-Dajjal saat ia keluar. 

Tidak sah, bukan tidak sempurna, iman dan tauhid seorang muslim bila ia sibuk beriman dan menghamba kepada Allah سبحانه و تعالى namun ia tidak mau menjauhi dan mengingkari thaghut. Sikap separuh-separuh dalam ber-tauhid, sangat potensial menyebabkan seseorang terjangkit dosa riddah...! Sebab ber-tauhid dengan dua sisi (beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى dan menjauhi thaghut) merupakan pesan abadi para Rasul utusan Allah سبحانه و تعالى sepanjang masa:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِاعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”(QS An-Nahl ayat 36)


Wallahu ‘alam bish-shawwaab.-

 

 

 

 

 

DOA

 

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS 18:10)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ

فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS 59:10)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS 3:8)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 3:147)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا

حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا

وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286)

 

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا

بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS 3:192-194)

 

اللهم إني أعوذبك بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal" (HR Muslim)

 

Shop