Muslimah, Berdayakanlah Dirimu! [Bag. 1 dari 2]

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

“Aduh Jeng, aku pusing deh sama anak-anakku. Masa’ tagihan HP (telpon genggam) mereka gede banget!”
“Iya, betul Bu, anakku juga. Kalo udah gitu, bapaknya marah-marah deh.”
“Tapi itu masih lebih beruntung, aku lebih repot lagi, soalnya tagihan telpon rumah yang tinggi betul. Mulanya aku enggak ngerti kenapa, sampe bapaknya marah betul sama saya, dikira saya yang terus terusan ngerumpi. Belakangan ketahuan gara-gara internet. Rupanya tanpa sepengetahuan kita, salah seorang anak memasang langganan internet atas namaku lewat telpon rumah! Aku enggak ngerti bagaimana bisa begitu.”

Begitulah percakapan para ibu di arisan RT. Ibu-ibu dari anak zaman sekarang ini. Anak-anaknya mengikuti zaman, namun ibu-ibunya masih berada di zaman mereka sendiri. Ada lagi yang mengeluhkan anaknya yang enggan keluar kamar sambil terus menerus asyik di depan komputer. Konon anaknya sering kontak dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, tetapi sama sekali tidak tertarik untuk bergaul dengan sanak saudara di sekelilingnya.
Cukup menarik juga bahwa kebanyakan ibu-ibu tersebut justru tidak mengerti bagaimana mengoperasikan komputer apalagi lebih tak tahu lagi bagaimana mengontrol apa yang dilakukan anak-anaknya di dunia maya.

Read more: Muslimah, Berdayakanlah Dirimu! [Bag. 1 dari 2]

Mencari Sukses Pendidikan [Bag. 2 dari 2]

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

SUKSES

Semua kita yang beragama Islam mestinya faham apa kriteria sukses dalam Islam. Sayangnya pembahasan tentang ini biasanya hanya dijumpai di mimbar-mimbar khutbah Jum’at atau di podium ceramah agama.
Sepertinya orang sekarang enggan membawa label agama untuk hal-hal lain selain dari masalah ke-agama-an yang sempit yaitu ibadah ritual. Takut dibilang primordial atau apalah tudingan lain. So, jangan harap topik sukses dari kacamata Islam akan mau di-seminar nasionalkan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini.

Sukses dalam paradigma Islam sudah sangat tegas dan jelas dalam QS Ali Imran ayat 185. Istilah faqod faaz dalam terjemahan Al-Qur’an berbahasa Inggris terbitan King Fahad Complex, Madinah, Saudi Arabia, adalah ”he indeed is successful.” 

Dalam beberapa terjemahan Al-Qur’an lain di artikan sebagai: sungguh-sungguh beruntung. Sedangkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 71, istilah faqod faaz juga digunakan untuk menunjuk pada kemenangan (faqod faaza fauzan azhima = sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar).
Intinya, kesuksesan atau keberuntungan atau kemenangan dalam paradigma Islami, harus di kaitkan dengan akhirat. Tak ada menang atau sukses jika hasil akhir di akhirat tidak beruntung.

Read more: Mencari Sukses Pendidikan [Bag. 2 dari 2]

Apakah Muslimah Perlu Pendidikan?

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

Dalam sebuah seminar keluarga sakinah, seorang peserta pria bertanya pada nara sumber yang juga pria: “Ustadz, menurut Ustadz untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi?”. Entah karena apa, Ustadz tersebut memberi jawaban yang bahkan seperti tidak mendukung pendidikan tinggi bagi wanita. Di hari yang sama, seseorang berdiskusi dengan penulis seputar tulisan terdahulu tentang karir muslimah. Singkat kata, ia gamang apakah ia perlu terus bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi yang jauh dari rumah sementara ia masih punya anak balita, ataukah lebih baik berhenti saja.

Untuk apa pendidikan? Sama saja dengan pertanyaan untuk apakah mencari ilmu? Apa saja manfaat ilmu? Pertanyaan yang tak perlu ditanyakan.
Sudah sangat banyak dibahas tentang besarnya pahala mencari ilmu dan mulianya pencari dan pengajar ilmu. Islam tidak diskriminatif dalam hal ini. Adalah Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra yang dikenal sebagai ahli Thibbun Nabawi (Pengobatan Cara Nabi saw) dan beliau pula yang menguasai sangat banyak Hadits Nabi SAW dan sering menjadi rujukan bagi para sahabat mulia yang lain.

Read more: Apakah Muslimah Perlu Pendidikan?

Sekelumit Pengalaman Perjalanan Ke Negeri Barat (1)

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

Bagian pertama

Baru-baru ini kami berdua berkesempatan mengunjungi Australia, sebuah negeri ”Barat” yang terdekat dengan negeri ini.

Disebut ”Barat” sebab sistem dan budaya yang berlaku di sana mengacu pada Eropa khususnya Inggris karena Australia masih termasuk sebagai negara Persemakmuran Inggris.

Ditinjau dari iklim dan geografinya, negeri yang sekaligus dianggap sebagai benua ini lebih mirip tanah Arab daripada kawasan Eropa; bergurun pasir dan iklim subtropis dua musim. Tak ada salju dimusim dingin tapi angin dingin sangat menusuk dan kering. Panas dimusim panas dapat mencapai 40 derajat atau lebih. Dengan musim yang terbalik dari belahan bumi utara, maka saat perayaan Natal mereka justru sedang musim panas menyengat.

Read more: Sekelumit Pengalaman Perjalanan Ke Negeri Barat (1)

Menggugat Paradigma Sukses Pendidikan

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

“Kalau sudah besar mau jadi apa nak?”
”Jadi doktel......”
”Jadi insinyur, bikin pesawat!!!”
”Jadi PROFESOR.....”
”Jadi bintang pilem....”
”Wah pintar semua murid ibu yaaa.....”

Potret percakapan yang tidak asing lagi ditelinga kita ketika anak-anak kita yang manis-manis dan lucu-lucu ditanyakan cita-cita mereka.
Nelongso....LHO? Ya, prihatin. Sebab anak-anak kita fasih sekali menyebutkan cita-cita duniawi mereka, bahkan sejak mereka kecil.

Seorang hafidz baru saja menerima murid baru, seorang anak remaja usia 16 tahun. Setelah wawancara dengan sang calon murid, sang hafidz bicara dengan orangtua anak tersebut: ”Wah Pak, saya terharu sekali, setelah 6 th mengajar tahidzul Qur’an di sekolah Islam terpadu, baru kali ini saya mendapatkan murid yang bercita-cita jadi hafidz 30 juz!”. Kontan si orangtua bertanya: ”Apa begitu, stadz? Kan banyak orangtua murid menyekolahkan anak mereka ke sini justru karena pendidikannya terpadu dengan Islam? Bahkan tahfidzul Qur’an termasuk kurikulum, ’kan?”. ”Yaah, begitulah Pak, kenyataannya perhatian murid maupun orangtua terhadap Qur’an juga tidak sebesar itu. Maksud saya, sedikit sekali yang berpikir menjadikan keahlian Qur’an sebagai cita-cita untuk dikejar.” Nelongso dua kali!

Read more: Menggugat Paradigma Sukses Pendidikan

Shop