Sekelumit Pengalaman Perjalanan ke Negeri Barat (2)

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

Bagian Kedua

Peradaban Barat = peradaban bersih?

Citra bahwa peradaban Barat adalah peradaban yang serba bersih dan teratur sudah melekat erat di benak setiap orang, sebagaimana sebaliknya jika menampilkan gambaran negeri atau komunitas muslimin, maka justru citra jorok dan kumuh sengaja dilekatkan dengan berlebihan. Gambaran masyarakat pesantren misalnya, selalu dengan lampu remang-remang, surau yang berkarpet butut dan kolam wudhu yang kotor.

Citra bersih atau kotor diidentikkan dengan teratur, tanpa kotoran yang terlihat dan serba licin mengkilap. Kamar mandi yang menjadi tempat pembuangan yang kotor menjadi cerminan tingkat kebersihan sebuah rumah. Jika kamar mandi (toilet)nya bersih maka berarti pemilik rumah orangnya resik apik bersih.

Sebagaimana kita ketahui bagi umat Islam, sholat yang wajib dilaksanakan 5 kali sehari haruslah dilengkapi dengan bersuci. Dalam kitab-kitab tentang fikih ibadah bab bersuci ini diletakkan paling awal; dan diantara yang paling awal dari bab ini adalah zat atau benda yang dapat digunakan untuk bersuci. Jika ingin bersuci, kita harus terlebih dahulu mencari air, sebelum akhirnya menggunakan batu atau tanah. Jika air masih dapat ditemukan, maka penggunaan bahan yang lain menjadi tidak sah.

Entah sejak kapan budaya Barat dikenal terbiasa menggunakan tisu (tissue) gulung sebagai pembersih istinja di toilet mereka. Tisu terbuat dari kayu dan kayu termasuk yang nomer sekian setelah air dalam urutannya sebagai pembersih. Selama beberapa hari berkelana di negeri kanguru tersebut, kami merasakan kesulitan setiap kali harus berurusan dengan toilet. Dapat dimaklumi jika toilet umum di mal-mal atau gedung umum/public di sana menyediakan hanya tisu sebagai pembersih. Namun ketika rumah-rumah kaum muslimin pun tidak menyediakan kemudahan penggunaan air untuk istinja’, maka penulis bertanya dalam hati: bagaimana selama ini istinja’nya dapat dinilai bersih/ cukup?.

Read more: Sekelumit Pengalaman Perjalanan ke Negeri Barat (2)

Menggugat Paradigma Sukses Pendidikan

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

“Kalau sudah besar mau jadi apa nak?”
”Jadi doktel......”
”Jadi insinyur, bikin pesawat!!!”
”Jadi PROFESOR.....”
”Jadi bintang pilem....”
”Wah pintar semua murid ibu yaaa.....”

Potret percakapan yang tidak asing lagi ditelinga kita ketika anak-anak kita yang manis-manis dan lucu-lucu ditanyakan cita-cita mereka.
Nelongso....LHO? Ya, prihatin. Sebab anak-anak kita fasih sekali menyebutkan cita-cita duniawi mereka, bahkan sejak mereka kecil.

Seorang hafidz baru saja menerima murid baru, seorang anak remaja usia 16 tahun. Setelah wawancara dengan sang calon murid, sang hafidz bicara dengan orangtua anak tersebut: ”Wah Pak, saya terharu sekali, setelah 6 th mengajar tahidzul Qur’an di sekolah Islam terpadu, baru kali ini saya mendapatkan murid yang bercita-cita jadi hafidz 30 juz!”. Kontan si orangtua bertanya: ”Apa begitu, stadz? Kan banyak orangtua murid menyekolahkan anak mereka ke sini justru karena pendidikannya terpadu dengan Islam? Bahkan tahfidzul Qur’an termasuk kurikulum, ’kan?”. ”Yaah, begitulah Pak, kenyataannya perhatian murid maupun orangtua terhadap Qur’an juga tidak sebesar itu. Maksud saya, sedikit sekali yang berpikir menjadikan keahlian Qur’an sebagai cita-cita untuk dikejar.” Nelongso dua kali!

Read more: Menggugat Paradigma Sukses Pendidikan

Mencari Sukses Pendidikan [Bag. 2 dari 2]

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

SUKSES

Semua kita yang beragama Islam mestinya faham apa kriteria sukses dalam Islam. Sayangnya pembahasan tentang ini biasanya hanya dijumpai di mimbar-mimbar khutbah Jum’at atau di podium ceramah agama.
Sepertinya orang sekarang enggan membawa label agama untuk hal-hal lain selain dari masalah ke-agama-an yang sempit yaitu ibadah ritual. Takut dibilang primordial atau apalah tudingan lain. So, jangan harap topik sukses dari kacamata Islam akan mau di-seminar nasionalkan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini.

Sukses dalam paradigma Islam sudah sangat tegas dan jelas dalam QS Ali Imran ayat 185. Istilah faqod faaz dalam terjemahan Al-Qur’an berbahasa Inggris terbitan King Fahad Complex, Madinah, Saudi Arabia, adalah ”he indeed is successful.” 

Dalam beberapa terjemahan Al-Qur’an lain di artikan sebagai: sungguh-sungguh beruntung. Sedangkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 71, istilah faqod faaz juga digunakan untuk menunjuk pada kemenangan (faqod faaza fauzan azhima = sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar).
Intinya, kesuksesan atau keberuntungan atau kemenangan dalam paradigma Islami, harus di kaitkan dengan akhirat. Tak ada menang atau sukses jika hasil akhir di akhirat tidak beruntung.

Read more: Mencari Sukses Pendidikan [Bag. 2 dari 2]

Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 2

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

 SIFAT/ NATURE DARI PENDIDIKAN SEKARANG DI SINI

 

Negara ini (Indonesia) dalam peringkat negara-negara di dunia saat ini masih dikatagorikan sebagai ’negara yang sedang berkembang’. Indonesia belum dianggap sebagai negara maju karena dianggap belum dapat menerapkan seluruh sistem jahiliyah secara 100%. Di dunia sekarang ini, kasta negara-negara ditentukan oleh sederet angka sebagai tolok ukur. Angka-angka tersebut sebenarnya merupakan angka-angka mati yang bisa saja berarti baik atau buruk tergantung bagaimana mengartikannya. Namun angka-angka tersebut kemudian dimunculkan untuk menciptakan pencitraan tertentu sebagaimana yang dikehendaki oleh pemakainya. Angka kematian penduduk (salah satu tolok ukur) masih tinggi, angka korupsi masih termasuk ranking sepuluh besar, income per-kapita masih rendah dan perolehan pajak masih kecil dan sejumlah tolok ukur jahiliyah lainnya, baik yang dapat dikatagorikan termasuk ma’rufatau mungkar secara Islam maupun jelek atau bagus menurut nilai jahiliyah sendiri.

Read more: Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 2

Sekelumit Pengalaman Perjalanan Ke Negeri Barat (1)

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

Bagian pertama

Baru-baru ini kami berdua berkesempatan mengunjungi Australia, sebuah negeri ”Barat” yang terdekat dengan negeri ini.

Disebut ”Barat” sebab sistem dan budaya yang berlaku di sana mengacu pada Eropa khususnya Inggris karena Australia masih termasuk sebagai negara Persemakmuran Inggris.

Ditinjau dari iklim dan geografinya, negeri yang sekaligus dianggap sebagai benua ini lebih mirip tanah Arab daripada kawasan Eropa; bergurun pasir dan iklim subtropis dua musim. Tak ada salju dimusim dingin tapi angin dingin sangat menusuk dan kering. Panas dimusim panas dapat mencapai 40 derajat atau lebih. Dengan musim yang terbalik dari belahan bumi utara, maka saat perayaan Natal mereka justru sedang musim panas menyengat.

Read more: Sekelumit Pengalaman Perjalanan Ke Negeri Barat (1)