Bunda, Mari Mengamati Buah Hati Kita

Category: Benteng Terakhir Published: Saturday, 01 December 2012 Written by Siti Aisyah Nurmi

Sepanjang hidup anak berkembang dan berubah, seiring itu pulalah sebaiknya sang ibu tetap mengamati dan mencoba mengenal anaknya.

Siapakah anak kita? Bayi mungil yang ditimang ibu dan ayah saat pertama kali?
Sembilan bulan sepuluh hari seorang ibu membawa bayinya dalam kandungan, secara naluri seorang ibu ia sudah mengenalinya. Betapapun ia belum pernah melihatnya, namun perasaan saling mengenal sudah tertanam di antara ibu dan anak.

Sejak dalam kandungan, sang ibu sudah dapat membedakan apakah anak yang ini terbilang gesit karena banyak geraknya di dalam kandungan, atau tergolong tenang. Sepanjang kehamilan, sebagian ibu menyempatkan diri berdialog dengan jabang bayinya lewat usapan lembut di kulit perutnya, dan kadang ada “jawabannya” dari dalam berupa tendangan halus atau terasa sang jabang bayi bergerak.

Read more: Bunda, Mari Mengamati Buah Hati Kita

Mari Mengenal Anak Kita

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 26 November 2012 Written by Siti Aisyah Nurmi

Manakala kurang mengenal anaknya orangtua kurang mampu memberi nasehat yang tepat pada anaknya sehingga anak kemudian cenderung mengabaikan.  Sembilan bulan ibu mengandung, sekian bulan lagi merawat sambil menyusui, ditambah sekian tahun membesarkan anak. Apakah kita sudah mengenal anak kita? Mungkin sudah, mungkin juga belum, atau mungkin baru sebagian? Wallahua’lam.

Sebagai orangtua, ibu dan ayah memiliki tuntutan untuk memahami anak-anaknya. Apalagi dengan semakin kompleksnya kehidupan modern, semakin banyaknya variasi dan pilihan kehidupan, maka semakin besarlah tuntutan untuk hal ini. Mau sekolah di mana? Sekolah kejuruan-kah? Atau sekolah umum? Atau kursus? Atau homeschooling?

Read more: Mari Mengenal Anak Kita

Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 1

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

KITA DAN PENDIDIKAN ANAK KITA DI MASA KINI

Kita, Ummat Islam yang hidup di abad ini terlahir di tengah budaya jahiliyah.Sadar atau tidak sadar, kita tak dapat menghindarinya. Kita memang terlahir sebagai anak muslim karena orangtua kita juga muslim, namun apakah kita sudah ’di-Islam-kan’ dengan baik oleh orangtua kita? Dengan segala hormat kepada mereka yang sangat kita cintai, namun tetap saja harus diakui bahwa kita belum diberikan pengajaran, pemahaman dan pembiasaan sebagai muslim sejati. -Atau mungkin ada sebagian (kecil) diantara kita ada yang telah mendapatkannya dari orangtua mereka namun diperkirakan pastilah jumlahnya tak banyak-. Sejak lahir hingga besar kita sangat dipengaruhi budaya jahiliyah Indonesia dengan segala versinya, ada versi tradisonal Indonesia, versi modern barat, versi kombinasi dll.

Sesaji yang diletakkan di halaman depan bangunan utama (tempat singgasana sultan)

ket gambar: Sesaji yang diletakkan di halaman di depan bangunan utama keraton (tempat singgasana Sultan) 

 

Read more: Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 1

Haji, Jihadnya Wanita

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 15 October 2012 Written by Siti Aisyah Nurmi

Dalam menghadapi Haji yang paling penting tetaplah persiapan taqwa agar halangan apapun dan kesulitan apapun pasti teratasi dengan hati lapang.

"Jihad kaum wanita adalah haji ke Ka’bah.” (HR Ahmad 23741). Begitu kata Nabi Muhammad SAW. Haji adalah aktivitas yang berat, sejak dari merencanakan keberangkatan hingga melaksanakan semua wajib, rukun dan sunnahnya.

Siapapun yang mempunyai niat untuk berhaji dari negeri yang jauh seperti negeri kia, seharusnya mempersiapkan diri dengan cukup. Jangan lupa yang paling penting adalah persiapan Taqwa, karena begitulah arahan dari Kitab Allah Al Qur’an yang mulia.

Apa saja kiranya yang perlu dipersiapkan seorang calon haji?

Pertama, persiapkan mental. Persiapkan hati, pikiran dan tentunya niat, semurninya untuk berhaji karena Allah SWT. Hapuskan semua niat yang bukan karena Allah. Jangan berhaji karena ingin disebut hajjah, atau karena ingin jalan-jalan atau belanja, atau niat-niat lain yang bukan karena Allah. Dengan kemantaban niat, maka aturlah pikiran dan kesiapan mental untuk melaksanakan ibadah wajib ini.

Read more: Haji, Jihadnya Wanita

Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 3

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

BEBERAPA PERSOALAN MENDASAR YANG ADA

 

(1) Pertama adalah soal paradigma pendidikan

Pendidikan jahiliyah berlandaskan paradigma sukses materialisme. Semua yang dianggap sebagai ”achievement” bersifat kuantitatif atau dikuantitatifkan. Anak sukses jika dapat gelar sarjana, anak sukses jika dapat kerja dengan gaji tinggi, rumah mewah, mobil mewah dlsb tolok ukur kebendaan. Anak sholeh dianggap abstrak dan utopia. Berapa nilai pemahamannya terhadap hidup, kedalaman Imannya dan keindahan akhlaqnya tak perlu dipedulikan, selama nilai-nilai kebendaan belum terpenuhi. Benda dulu, baru yang lain. Orang pandai (sarjana) yang kaya dan santun....sangat dihormati. Yang pandai tapi kurang ajar-pun di berikan tempat lebih baik daripada yang ’biasa-biasa-saja” namun berakhlaq mulia.

Read more: Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 3

Shop