Haji, Jihadnya Wanita

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 15 October 2012 Written by Siti Aisyah Nurmi

Dalam menghadapi Haji yang paling penting tetaplah persiapan taqwa agar halangan apapun dan kesulitan apapun pasti teratasi dengan hati lapang.

"Jihad kaum wanita adalah haji ke Ka’bah.” (HR Ahmad 23741). Begitu kata Nabi Muhammad SAW. Haji adalah aktivitas yang berat, sejak dari merencanakan keberangkatan hingga melaksanakan semua wajib, rukun dan sunnahnya.

Siapapun yang mempunyai niat untuk berhaji dari negeri yang jauh seperti negeri kia, seharusnya mempersiapkan diri dengan cukup. Jangan lupa yang paling penting adalah persiapan Taqwa, karena begitulah arahan dari Kitab Allah Al Qur’an yang mulia.

Apa saja kiranya yang perlu dipersiapkan seorang calon haji?

Pertama, persiapkan mental. Persiapkan hati, pikiran dan tentunya niat, semurninya untuk berhaji karena Allah SWT. Hapuskan semua niat yang bukan karena Allah. Jangan berhaji karena ingin disebut hajjah, atau karena ingin jalan-jalan atau belanja, atau niat-niat lain yang bukan karena Allah. Dengan kemantaban niat, maka aturlah pikiran dan kesiapan mental untuk melaksanakan ibadah wajib ini.

Read more: Haji, Jihadnya Wanita

Perjalanan Penuh Pengorbanan

Category: Benteng Terakhir Published: Friday, 19 October 2012 Written by Siti Aisyah Nurmi

Crowded-crowded-crowded, apa boleh buat, begitulah adanya. Sejak turun dari pesawat menunggu antrian imigrasi, antri jatah bis, antri kamar mandi, antri makan, sampai antri jumroh. Sabar adalah obat dan solusinya, selain berbagai kiat lain yang mampu meringankan beban ini.

Pada umumnya setiap perjalanan memiliki nilai pengorbanan dan kesulitan tersendiri, senyaman apapun dan sesantai apapun perjalanan tersebut. Ada sebuah perjalanan yang wajib bagi Muslim, bernilai ibadah yang tinggi, dan mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Karena nilai wajibnya dan karena ke-khas-annya, penting bagi Muslim untuk mengenal sifat dan tantangan perjalanan ini.

Ibadah Hajji wajib sekali seumur hidup. Ibadah ini hanya dilakukan pada jadwal tertentu setahun sekali dan hanya di tempat tertentu. Begitulah ibadah, harus dilakukan sesuai dengan aturannya dan tidak boleh ditambah atau dikurangi atau diubah tanpa dalil syar’i pula.

Read more: Perjalanan Penuh Pengorbanan

Bunda, Mari Mengamati Buah Hati Kita

Category: Benteng Terakhir Published: Saturday, 01 December 2012 Written by Siti Aisyah Nurmi

Sepanjang hidup anak berkembang dan berubah, seiring itu pulalah sebaiknya sang ibu tetap mengamati dan mencoba mengenal anaknya.

Siapakah anak kita? Bayi mungil yang ditimang ibu dan ayah saat pertama kali?
Sembilan bulan sepuluh hari seorang ibu membawa bayinya dalam kandungan, secara naluri seorang ibu ia sudah mengenalinya. Betapapun ia belum pernah melihatnya, namun perasaan saling mengenal sudah tertanam di antara ibu dan anak.

Sejak dalam kandungan, sang ibu sudah dapat membedakan apakah anak yang ini terbilang gesit karena banyak geraknya di dalam kandungan, atau tergolong tenang. Sepanjang kehamilan, sebagian ibu menyempatkan diri berdialog dengan jabang bayinya lewat usapan lembut di kulit perutnya, dan kadang ada “jawabannya” dari dalam berupa tendangan halus atau terasa sang jabang bayi bergerak.

Read more: Bunda, Mari Mengamati Buah Hati Kita

Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 3

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

BEBERAPA PERSOALAN MENDASAR YANG ADA

 

(1) Pertama adalah soal paradigma pendidikan

Pendidikan jahiliyah berlandaskan paradigma sukses materialisme. Semua yang dianggap sebagai ”achievement” bersifat kuantitatif atau dikuantitatifkan. Anak sukses jika dapat gelar sarjana, anak sukses jika dapat kerja dengan gaji tinggi, rumah mewah, mobil mewah dlsb tolok ukur kebendaan. Anak sholeh dianggap abstrak dan utopia. Berapa nilai pemahamannya terhadap hidup, kedalaman Imannya dan keindahan akhlaqnya tak perlu dipedulikan, selama nilai-nilai kebendaan belum terpenuhi. Benda dulu, baru yang lain. Orang pandai (sarjana) yang kaya dan santun....sangat dihormati. Yang pandai tapi kurang ajar-pun di berikan tempat lebih baik daripada yang ’biasa-biasa-saja” namun berakhlaq mulia.

Read more: Antara Pendidikan Jahiliyah Modern dan Pendidikan Islami Bag. 3

Muslimah, Berdayakanlah Dirimu! [Bag. 1 dari 2]

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

“Aduh Jeng, aku pusing deh sama anak-anakku. Masa’ tagihan HP (telpon genggam) mereka gede banget!”
“Iya, betul Bu, anakku juga. Kalo udah gitu, bapaknya marah-marah deh.”
“Tapi itu masih lebih beruntung, aku lebih repot lagi, soalnya tagihan telpon rumah yang tinggi betul. Mulanya aku enggak ngerti kenapa, sampe bapaknya marah betul sama saya, dikira saya yang terus terusan ngerumpi. Belakangan ketahuan gara-gara internet. Rupanya tanpa sepengetahuan kita, salah seorang anak memasang langganan internet atas namaku lewat telpon rumah! Aku enggak ngerti bagaimana bisa begitu.”

Begitulah percakapan para ibu di arisan RT. Ibu-ibu dari anak zaman sekarang ini. Anak-anaknya mengikuti zaman, namun ibu-ibunya masih berada di zaman mereka sendiri. Ada lagi yang mengeluhkan anaknya yang enggan keluar kamar sambil terus menerus asyik di depan komputer. Konon anaknya sering kontak dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia, tetapi sama sekali tidak tertarik untuk bergaul dengan sanak saudara di sekelilingnya.
Cukup menarik juga bahwa kebanyakan ibu-ibu tersebut justru tidak mengerti bagaimana mengoperasikan komputer apalagi lebih tak tahu lagi bagaimana mengontrol apa yang dilakukan anak-anaknya di dunia maya.

Read more: Muslimah, Berdayakanlah Dirimu! [Bag. 1 dari 2]