Pisah Di Mata Anak

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

Bunda, Bunda, sekarang aku gak punya Papa lagi ya?”

Bagaikan tersengat listrik sang nenek yang sedang duduk di dekat ibu dan anak tersebut melirik ke arah mereka.

Putri cantik berusia 4 tahun itupun kemudian ditanya oleh ibunya: ”Kenapa kak? Kan Papa ada, kemaren baru ke sini, kakak kan main sama Papa?”

Si Putri pun berkata dengan gaya agak seperti orang dewasa: ”Iya, tapi kan Papa ke sini....ke sana....(kemudian ia kehabisan kata-kata)”.

Maka nenek dan Bundanya-pun mengerti mengapa ia bertanya demikian.

Bunda pun berusaha menjawab dengan bahasa yang sederhana: ”Papa ada, tapi sekarang gak tinggal di sini lagi, papa di rumah nenek satu lagi

Beberapa bulan sebelumnya Papa Putri telah menjatuhkan thalaq pada ibunya, kemudian si Papa-pun pindah ke rumah ”nenek satu lagi” (nenek dari papanya Putri). Maka sejak saat itupun ketiga anak dari pasangan tersebut tak lagi dapat melihat Papa mereka ”pulang” ke rumah yang selama ini juga rumah Papa bersama mereka. Putri punya dua orang adik perempuan, Cinta usia 3 tahun dan Sholihat 1 ½ th.

Read more: Pisah Di Mata Anak

Muslimah, Luruskan Niat Dalam Mencari Ilmu! [Bag. 2 dari 2]

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

Apakah anak perempuan perlu diberi pendidikan terbaik?
Adakah yang meragukan pentingnya?

Perempuan akan menjadi pendidik pertama generasi yang akan datang. Mendidik dengan baik seorang perempuan calon ibu, berarti kita menyiapkan “sekolah terbaik” yang pertama bagi calon pemimpin masa datang.
Tetapi mengapa masih saja ada yang kurang setuju dengan pendidikan bagi perempuan? Kuno memang, tapi masih ada. Apakah karena ada alasan kekhawatiran-kekhawatiran tertentu?

Mungkin memang perlu diuraikan lebih banyak, pendidikan seperti apa yang benar-benar mutlak dibutuhkan seorang Muslimah, dan bagaimana cara-cara terbaik bagi anak perempuan dalam menempuh ilmu dan mengamalkannya kelak.

Read more: Muslimah, Luruskan Niat Dalam Mencari Ilmu! [Bag. 2 dari 2]

Sekelumit Pengalaman Perjalanan ke Negeri Barat (2)

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

Bagian Kedua

Peradaban Barat = peradaban bersih?

Citra bahwa peradaban Barat adalah peradaban yang serba bersih dan teratur sudah melekat erat di benak setiap orang, sebagaimana sebaliknya jika menampilkan gambaran negeri atau komunitas muslimin, maka justru citra jorok dan kumuh sengaja dilekatkan dengan berlebihan. Gambaran masyarakat pesantren misalnya, selalu dengan lampu remang-remang, surau yang berkarpet butut dan kolam wudhu yang kotor.

Citra bersih atau kotor diidentikkan dengan teratur, tanpa kotoran yang terlihat dan serba licin mengkilap. Kamar mandi yang menjadi tempat pembuangan yang kotor menjadi cerminan tingkat kebersihan sebuah rumah. Jika kamar mandi (toilet)nya bersih maka berarti pemilik rumah orangnya resik apik bersih.

Sebagaimana kita ketahui bagi umat Islam, sholat yang wajib dilaksanakan 5 kali sehari haruslah dilengkapi dengan bersuci. Dalam kitab-kitab tentang fikih ibadah bab bersuci ini diletakkan paling awal; dan diantara yang paling awal dari bab ini adalah zat atau benda yang dapat digunakan untuk bersuci. Jika ingin bersuci, kita harus terlebih dahulu mencari air, sebelum akhirnya menggunakan batu atau tanah. Jika air masih dapat ditemukan, maka penggunaan bahan yang lain menjadi tidak sah.

Entah sejak kapan budaya Barat dikenal terbiasa menggunakan tisu (tissue) gulung sebagai pembersih istinja di toilet mereka. Tisu terbuat dari kayu dan kayu termasuk yang nomer sekian setelah air dalam urutannya sebagai pembersih. Selama beberapa hari berkelana di negeri kanguru tersebut, kami merasakan kesulitan setiap kali harus berurusan dengan toilet. Dapat dimaklumi jika toilet umum di mal-mal atau gedung umum/public di sana menyediakan hanya tisu sebagai pembersih. Namun ketika rumah-rumah kaum muslimin pun tidak menyediakan kemudahan penggunaan air untuk istinja’, maka penulis bertanya dalam hati: bagaimana selama ini istinja’nya dapat dinilai bersih/ cukup?.

Read more: Sekelumit Pengalaman Perjalanan ke Negeri Barat (2)

Nyontek Massal dan Paradigma Pendidikan

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

 

Nyontek massal saat UAN? Hah?!

Ternyata banyak juga yang terperangah mendengar berita tersebut.

Kaget sebab karena sebuah realita yang sudah puluhan tahun diketahui ada dalam dunia pendidikan kini dilakukan secara massal.

Dunia memang sudah semakin sarat dengan kegelapan. Apa yang beberapa puluh tahun lalu merupakan sebuah perbuatan ”tidak baik” kini dengan 1001 alasan bahkan dilakukan secara massal dan –menurut pihak-pihak yang memberi laporan- diprakarsai oleh pihak pendidik sendiri.

Keadaan saat ini diperparah dengan fenomena kemerosotan moral masyarakat itu sendiri. Akibat terlalu mementingkan ijazah (yang dengan sendirinya sudah memunculkan fenomena pemalsuan ijazah), para orantua dan pendidik formal dengan teganya melupakan tujuan mulia pendidikan, yaitu: mengangkat harkat anak didik dengan bertambahnya wawasan kecerdasannya. Bagaimana mungkin mengangkat harkat anak didik jika ”kemuliaan” itu diterjemahkan dengan sederet angka mati tanpa pembuktian sikap bahkan angka tersebut boleh dicapai dengan curang.

Kenapa ijazah penting? Jawabannya karena ijazah akan dapat mengantar pada gengsi dan pada kesempatan mendapat pekerjaan yang bergaji lebih tinggi.

Gaji berarti: lagi-lagi ”ILAH” yang bernama materi.

Read more: Nyontek Massal dan Paradigma Pendidikan

Mind Control Alat Perampas Kemerdekaan Manusia (1)

Category: Benteng Terakhir Published: Monday, 17 September 2012 Written by Siti Aisyah

 

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”(QS. Al-Baqarah [2] : 217)

Beberapa waktu yang lalu, saat menulis tentang “Awas Dajjal Menyerang Rumah Anda”, penulis menemukan hal baru yang selama ini kurang diperhatikan, yaitu tentang “Subliminal Message” (pesan-pesan yang disampaikan ke alam bawah sadar seseorang sehingga ia tidak menyadarinya meskipun menerimanya ke dalam otak).

Semakin berusaha mempelajari, penulis menjadi semakin khawatir akan bahayanya.

Read more: Mind Control Alat Perampas Kemerdekaan Manusia (1)

Shop